Mengejar Fajar

Travel

Kurang sekitar 10 meter sampai puncak, matahari sudah sedikit tampak di sela-sela awan. Kami bertiga mulai kelabakan menuju puncak, sambil tidak melepaskan pandangan dari matahari. Dengan keadaan tubuh banjir keringat, kamipun tidak menyia-nyiakan momen terbaik itu sambil mengatur nafas.

IMG-20140812-WA0065

IMG-20140812-WA0057

IMG-20140812-WA0117

Udara di Gunung Kendil tidak terlalu dingin seperti di Gunung Telomoyo. Mengingat tingginya cuma sekitar 800 sekian mdpl saja. Aku melepaskan kemejaku disini. Aku berangkat dengan baju tiga lapis karena khawatir kedinginan. Jaket sudah aku lepaskan di tengah perjalanan karena merasa kepanasan. Ternyata baju lengan panjang sudah cukup untuk menghangatkan tubuh.

Kami telah mendaki selama kurang lebih 30 menit. Dengan kondisi tubuh setengah basah karena embun rerumputan. Rerumputan sangat lebat hingga hampir menutup jalan setapak. Jalan setapak yang kami lewati lumayan licin.

Gunung ini, mungkin lebih tepat disebut bukit, dari jauh terlihat runcing. Entah apa hubungannya dengan namanya, Kendil berarti tempayan. Karena setahuku tempayan kalo dibalik (biasa dipakai untuk tempat gudeg Jogja yang enak ya ampun itu) ‘berpantat’ lebar dan rata. Bertolak belakang dengan gunung yang terlihat lancip ini. Eh, selalu saja mempergunjingkan arti nama. :))

Disini kami hanya bertiga. Aku, Maria, dan Ma’ruf. Ma’ruf adalah penduduk sekitar yang katanya sudah ke Gunung Kendil sejak ia belum bisa berjalan. Pastinya ia kemari dengan digendong ibunya sewaktu masih kecil.

IMG-20140812-WA0083

Ma’ruf bercerita kalau di gunung ini pernah ditemukan dua nampan kuno dari tembaga. Konon, permukaannya dipenuhi dengan bekas seperti pencetan-pencetan seperti jari tangan. Mungkin seperti empu-empu di masa lalu yang menyepuh keris yang masih membara dengan menggunakan anggota tubuhnya. Nampan inipun mungkin dibentuk dengan cara yang sama. Cerita tentang kesaktian manusia di masa lalu memang menarik. Membayangkan dan menerka-nerka juga. 😀

Cerita lain, di daerah sini pernah terdengar ledakan besar yang anehnya tidak ada bekasnya. Dicurigai bintang jatuh. Karenanya banyak orang berbondong-bondong untuk mencari sumber ledakan selama beberapa hari. Tetapi tidak ditemukan apapun disini.

Banyak cerita yang dituturkan Ma’ruf. Aku mendengarkannya dengan seksama sambil menikmati kopi panas dan roti sobek coklat andalan. Legenda memang tidak pernah lepas dari kehidupan orang Jawa, dan aku selalu menikmatinya.

Di puncak gunung yang cuma seluas kamarku ini, terlihat pemandangan beberapa gunung seperti Telomoyo, Merbabu, perbukitan, dan Rawa Pening. Hebat. Pandangan 360° tanpa halangan apapun. Baru sekali ini aku melihat tempat dengan pandangan sebebas ini.

IMG-20140812-WA0061

IMG-20140812-WA0025

IMG-20140812-WA0069

Matahari mulai tinggi dan kami memutuskan untuk turun. Pastinya setelah membawa semua sampah yang kami temui disini. Ya, kami disini dan melihat sampah berserakan di puncaknya. Bodohnya, kenapa kami tidak bersih-bersih di awal. Foto favorit kamipun terlihat kotor. Penyesalan selalu di akhir, memang kalau di awal namanya pendaftaran. -.-”

IMG-20140812-WA0144

Aku mengawali perjalanan turun dengan… setor pantat. Konyol, posisi masih di puncak dan baru beberapa langkah. Ga keren sama sekali. Tanah licin dan aku belum membersihkan sela-sela sepatu. Untung pantat didesain dengan lemak ekstra yang berfungsi seperti airbag. Huh, tapi tetap saja sakit.

Tidak terbayang bapak-ibu penduduk sekitar selalu melewati tempat ini dengan barang bawaan. Padahal usia mereka rata-rata dua kali lipat kami, atau malah lebih dari itu! Mengagumkan. Atau sebaliknya, keseimbangan kami yang dipertanyakan. :))

Kesalahanku yang berikutnya adalah tidak bawa celana ekstra dan sandal jepit. Dari kaki sampai sepatu benar-benar basah kuyup. Jadi memang sangat disarankan pakai sepatu tahan air dan juga celana panjang. Daripada kaki baret-baret dan gatal kena rumput.

Tidak disarankan juga membawa orang tua atau anak kecil. Orang pacaran juga sangat tidak disarankan kesini. Kenapa ga boleh? Mengganggu pandangan. Ga enak aja diliatnya. Hahahhahaa… Abaikan! Boleh, beneran boleh. Asal jangan mesra-mesra. 😛

Rute termudah dari Salatiga adalah: Jetis-Patung Gajah Sraten belok kiri-Muncul-Belok kiri di dekat pos ojek-Desa Tegaron-Dusun Puwono-Dusun Gesing. Motor dititipkan ke rumah penduduk sekitar. Oiya, pakai motor saja. Jangan bawa mobil. Ribet.

Sampai di bawah kami ngos-ngosan (aku dan Maria aja, Ma’ruf nggak sama sekali). Kamipun beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan sekitar.

I will difinitely go back there again! Kami pasti kembali!

Mau ikut?

IMG-20140812-WA0169

Advertisements

2 thoughts on “Mengejar Fajar

    1. Halo, Mas. Untuk petunjuk sepertinya tidak ada. Kami bisa sampai kesana diantar penduduk setempat. Pakai GPS saja atau Gunakan Penduduk Sekitar dan rajin-rajin bertanya saja kalau ragu-ragu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s