The Fallen Angel – Motoran Part 2 (End)

Travel

Jaka Tarub, dikisahkan sebagai seorang jejaka jomblo yang sangat beruntung. Menemukan tujuh bidadari turun dari kahyangan dan mampir di sungai yang indah. Dari balik batu, ia sukses mengintip mereka yang sedang asik mandi rame-rame, cekikikan, dan main air. Udah, dibayangin aja sendiri bagaimana mereka mandi. Oops…

Si Jaka diam-diam mencuri selendang salah satunya bidadari yang sedang mandi. Akibatnya si Bidadari tidak bisa pulang ke kahyangan. Nawangwulan, si Bidadari apes ditinggal kawan-kawannya. Entah bagaimana caranya akhirnya Nawang nempel ke Jaka dan diperistri olehnya. A ha! What a lucky man he was.

Kabarnya Tempat Kejadian Perkara Jaka Tarub mengintip ini ada di Air Terjun Sekarlangit. Sekar dalam bahasa Jawa berarti bunga, sehingga artinya menjadi “bunga dari langit”, nama yang sangat feminin. Mungkin ada hubungannya dengan dongeng Jaka dan para bidadari tadi.

Masih dalam rangkaian perjalanan di sekitaran Gunung Telomoyo. Berboncengan bersama Maria (@marianiena) dengan motor merah imutnya. Setelah sekian kali menimbang-nimbang mau kemana, kami memutuskan untuk pergi ke air terjun Sekarlangit. Jaraknya cuma 20 menit naik motor.

Jalannya beraspal dan dikelilingi pemandangan ladang sayuran dengan backgound pegunungan dan perbukitan. Saat itu masih sekitar jam 7 pagi, udaranya masih bersih dan dingin. Langit cerah dan biru.

Menuju Sekarlangit

Seketika aku merasa manusia paling beruntung. Tinggal di Salatiga, sehingga dekat dengan alam dan pemandangan indah. Objek wisata alam tidak habis-habisnya dikunjungi. Satu belum didatangi sudah dapat ide lain lagi mesti kemana.

Apabila dari Salatiga, air terjun ini bisa dicapai dengan rute melewati Pasar Sapi. Jalan terus sampai Getasan, dan di kanan jalan ada gerbang dan petunjuk menuju Sekarlangit. Ikuti saja petunjuknya. Koordinat gugelmep di -7.368, 110.341.

Andong

Sesampainya di lokasi air terjun Sekarlangit kami disambut oleh Mas yang menjaga loket. Aku lupa mesti bayar berapa, karena saat itu ia tidak punya uang kembalian karena terlalu pagi. Ssst… Kami diberi gratis. Terima kasih ya, Mas. Kalau tidak salah tiket masuk cuma Rp. 4,000an.

Kami melewati jalan dari bebatuan yang disatukan dengan semen. Sekitar 200 m, sedikit licin dan ada beberapa bagian yang masih dari tanah.

Jalan Setapak Sekarlangit

Banyak penduduk setempat melalui jalan ini membawa bambu. Mereka orang-orang yang menyenangkan, ketika disapa selalu menjawab dengan ramah.

Suara air terjun dari jauh selalu berhasil membuat kami bersemangat. Tapi kami tetap berusaha santai dan menikmati pemandangan di sekitar kami. Batu-batu besar di sekitar kami tertanam di tanah, dikelilingi oleh sulur-sulur pohon. Kumbang dan capung dengan berbagai warna melewati kami.

Tempat mandi para bidadari itupun mulai kelihatan. Ada jembatan di dekatnya yang harus kami lintasi. Jembatannya kokoh dan aman, tetapi kami tetap berpegangan dan berhati-hati. Dasarnya tetap licin.

Kami datang saat musim hujan, dan air mengucur deras. Air terjun yang indah dikelilingi tanaman tropis. Indahnya sangat merepresentasikan alam tropis Indonesia. Tidak heran para bidadari memilih untuk mandi disini. Mungkin karena di kahyangan tidak ada kamar mandi.

Air Terjun Sekarlangit

Sayangnya… Saat kami datang airnya keruh dan sampah nyangkut dimana-mana. Banyak. Banget. Sampah. Serius. Sekali lagi. Banyak banget. Di dalam sungai, nyangkut di bebatuan dan di sekitar jalan. Jadi masih banyak ya orang buang sampah di sungai? Duh, masih ternyata. Airnya juga keruh. Saat itu tidak timbul sedikitpun keinginan untuk turun dan main air.

Belakangan kami baru tahu kalau ternyata air disini ada khasiatnya. Menambah kecantikan wanita dan mempermudah cari jodoh! Cuma dengan cara membasuhkan air ke tubuh dan wajah saja. Wah, klinik kecantikan dan suntik BoTox jadi ga laku nih! Kalau pengen lancar jodoh katanya harus bertapa malam hari disini. Mau coba?

Sayang airnya keruh. Kalau bersih kami pasti sudah nyebur, bergulung-gulung di air, terus menyelam. Kalau perlu berusaha selama mungkin berendam sebadan sambil tahan nafas. Siapa tahu tidak perlu bertapa disini sudah dapat efeknya. :))

Anyway, ada beberapa catatan penting saat bermain air di sekitar air terjun. Pasang kuping alias dengarkan baik-baik. Kalau dengar suara bergemuruh segera lari ke tempat yang tinggi dan aman. Debit air bisa naik tiba-tiba, jika di daerah lain yang dilewati sungai sedang turun hujan. Kemungkinan terburuk adalah arus air menjadi semakin kuat dan menghanyutkan apapun yang dilewatinya. Pernah ada kejadian batu-batu besar ikut hanyut dan jatuh dari air terjun.

Alam sangat tidak bisa ditebak dan kita sebaiknya ‘cari aman’. Sebaiknya bermain air di pinggiran dan jangan terlalu dekat dengan air terjun. Foto-foto dari jauh juga udah keren kok. Cukup, singkirkan bayangan-bayangan ngeri itu. Kita kembali ke cerita indahnya saja.

Jadi tempat ini cocok untuk didatangi oleh siapapun, kecuali anak-anak di bawah 10 tahun. Toilet tersedia di dekat loket, dan terdapat 2 warung disini. Satu di area parkir, dan satu di dekat air terjun. Menunya standar objek wisata: seputar coffee mix dan popmie.

Kembali lagi ke si Jaka dan Nawang. Mereka akhirnya dikaruniai anak dan hidup bahagia. Sampai suatu hari si Nawang menemukan selendangnya yang disembunyikan suaminya. Nawang merasa dibohongi dan ia meninggalkan Jaka ke kahyangan. Ia hanya turun ke bumi untuk menyusui anaknya saja.

Jadi, boys… Ehm… Jangan pernah membohongi wanita ya. Apalagi dengan alasan ingin memiliki. Duh, berat banget nih pesannya.

Lumayan udah segar kena cipratan airnya, sambil sedikit berharap dapat efeknya juga. Ihik. Setelah cek foto kelihatan tambah cantik 10% kok, lumayan. Kalau efeknya seputar jodoh belum terbukti sampai sekarang. Hahahhahahaa…

Kamipun meninggalkan tempat ini. Teman Maria saat itu menelepon dan kebetulan bercerita kalau ada air terjun bagus yang namanya Kedung Kayang di sekitar sini. Ok, kami sepakat lanjut kesana. Kami sebelumnya mengisi perut dulu dengan nasi jagung gorengnya Waroeng Nggoenoeng. Seperti biasa, urusan perut tidak boleh sampai terlambat.

Saat sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba hujan deras turun. Ok, baiklah. Alam memang sulit diprediksi. Sudah biasa deh, diberi harapan palsu sama alam. Jadi kami memutuskan untuk pindah tujuan: kasur empuk di rumah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s