Naik-Naik ke Puncak Gunung – Motoran Part 1

Travel

“Serius mau ke Telomoyo? Minggu kemarin longsor lho,” kata si Arief (@ariefpramasto) sambil nyesep kopi panasnya. Baru saja kami selesaiin beberapa urusan pekerjaan di salah satu kafe, dan lanjut ngobrolin soal rencanaku jalan ke Gunung Telomoyo. Itu kan seminggu kemarin. Di puncak Telomoyo katanya dipake buat pemancar juga, mestinya bekas longsor udah dibersihin kali ya… Walopun berharap sudah dibersihkan tapi tetap was-was juga. Memang satu-satunya cara membuktikan cuma lihat langsung kesana. Sedikit cerita, Arief itu sahabat sekaligus fotografer dan designer langgananku, yang saat itu juga mengusulkan untuk membeli domain atas namaku. “Mau dipakai buat apa belakangan, yang penting beli dulu.” Haha, beneran kepake juga sekarang. Thanks, Rip!

Saat itu bulan Mei dan hujan lagi sering-seringnya mengguyur Salatiga dan sekitarnya. Ga heran kalo tanah jadi melunak dan tanah yang di tebing-tebing jadi gampang rontok. Agak ketar-ketir juga. Udah terlanjur pilih hari libur dan janjian sama Maria (@marianiena), naik motor pula. Apes, liat weather forecast kebetulan di hari yang dijanjikan ramalannya hujan. Untungnya, di pagi hari yang direncanakan ga keliatan mendung sedikitpun langitnya. Bintangnya keliatan. Syukurlah.

Jam 4 pagi bangun, siap-siap, cuci muka, dan menjalankan kewajiban wanita: dandan dikit, terus nunggu dijemput. Ga salah baca, aku emang ga nulis mandi, dan aku punya keyakinan kalo cantik itu ga harus mandi. :p Setelah beberapa saat, si Maria datang menjemput pake motor matic imut merahnya. Akupun langsung mbonceng dan kami langsung berangkat ke tujuan: Gunung Telomoyo.

Dari Salatiga kami memacu motor ke arah Kopeng. Angin pagi terasa dingin walaupun aku sudah pakai baju 3 lapis. Baju dalam, kaos, dan jaket olah raga yang memang tidak terlalu tebal. Aku memastikan ga ada celah di bagian punggung, dada dan perut yang memungkinkan angin dingin itu masuk, itu yang terpenting. Di tengah-tengah perjalanan kami sempat berhenti sesaat setelah melihat bulan mulai merebah. Besar, bulat sempurna. Kami berusaha tidak melewatkan momen tersebut dengan berhenti dan mencoba mengambil foto, tapi sayang terlihat kurang jelas dan bagus. Ah, sudahlah. Memang lebih indah dilihat langsung.

Kami meneruskan perjalanan, sedikit terburu-buru karena kami berharap bisa melihat sunrise dari puncak gunung. Kami menuju Desa Blancir, Kecamatan Ngablak, kemudian mencari Desa Pandean. Jalan yang kami lewati berliku-liku, dan melewati ladang penduduk. Udara bersih dan segar walaupun sesekali terpolusi aroma pupuk kandang. :))

Seperti obyek wisata pada umumnya, ada loket yang menjual tiket masuk. Tapi berhubung masih pagi banget, jadi ga ada yang jaga. Ya udah, kami lewat aja ntar bayar belakangan kalo balik. Setelah melewati loket ini pendakianpun dimulai. Jalan hanya cukup semobil dan berkelok-kelok. Kondisinya lumayan. Lumayan hancur lebur maksudnya… Apalagi aspal sampai terkelupas dan batu-batu di dasarnya sampai terlihat.

Maria sedang berusaha mengendalikan si Merah Imut melewati jalan ini.

Maria sedang berusaha mengendalikan si Merah Imut melewati jalan ini.

Di jalan sempat turun dari motor gara-gara nyangkut, setelah jalan lumayan masuk akal dilewati motor baru mbonceng lagi. Sempat heboh gara-gara lihat air terjun kecil, tapi harus bersabar karena tujuan utama harus tercapai: sunrise. Setelah beberapa saat mendaki, kami bertemu serombongan orang dan mereka bilang: “Mbak, ga bisa naik sampai puncak. Longsor.” Yaaahh… Namanya penasara dan belum lihat sendiri, kami tetap nekat coba ke atas, siapa tahu daerah longsorannya tetap bisa dilewati dengan jalan kaki. Karena wanita itu selalu berharap. #alah

...sementara itu aku jalan di belakang sambil kasih semangat!

…sementara itu aku jalan di belakang sambil kasih semangat!

Setelah beberapa saat terguncang-guncang di motor, akhirnya ketemu titik longsornya. Resmi, ga bisa dilewati dengan jalan kaki. Sunrise juga resmi pupus karena matahari di sisi sebaliknya. Ga ada di kamus liburan gagal, kami sedikit turun dan cari spot terbaik. Parkir motor, duduk di pembatas jalan, keluarkan bekal andalan: air putih dan roti coklat. Berdiri di tepi pembatas jalan dan melihat pemandangan, hebat. Ga mau liat ke bawah. 1. Serem, tinggi banget. 2. Sampah bertebaran. 😥

Landscape Telomoyo Spot Favorit!

Konon dari sini ada 5 gunung yang bisa dilihat, tapi aku cuma mengenali 2 diantaranya. Ibu Merbabu, yang setiap pagi aku sapa dari jendela kamarku, dan satunya gunung Andong yang terlihat sangat dominan di spot ini. Keren.

Sudah merasa cukup nongkrong di spot ini, kami turun menuju ke air terjun kecil tadi. Buka bekal lagi, nyemil lagi sambil lihat air terjun. Hawa dingin selalu sukses untuk menimbulkan rasa lapar. Yeah, right. Sambil mengagumi air terjun yang di puncaknya ditumbuhi pepohonan tinggi, lagi-lagi merasa agak gimana juga liat sampah bertebaran di bawah air terjun. Sepertinya ditinggalkan pengunjung-pengunjung yang sebelumnya ke tempat ini.

Air Terjun Telomoyo

Mungkin ga bisa ikut membantu membersihkan, ga bisa melarang orang lain supaya ga nyampah, tapi ga nambahin sampah disini akan jadi pilihan terbaik. Kemana-mana kami selalu bawa kantong plastik kosong buat tempat sampah. Setelah perjalanan selesai baru kami buang ke tempat sampah. Tau sendiri main di alam yang jarang dilewati orang, mana ada tempat sampah. Jadi tahu diri itu lebih baik, bawa tempat sampah sendiri. Sempat kepikiran juga, kok diatas tadi longsoran ga dibersihin. Kesimpulannya udah seminggu lebih keadaan seperti itu dibiarkan saja. Sayang…

Ibu Merbabu, Is that youuu?

Soal indahnya tempat ini, sepertinya akan jauh lebih mudah menjelaskan pakai foto daripada pakai kalimat. Sepertinya tempat ini sudah banyak diketahui orang, terbukti disini kami berpapasan dengan sekelompok om-om dan tante-tante yang bawa 2 mobil dari Semarang. Mereka kesulitan naik dengan mobil, akhirnya putar balik dan jalan kaki ke atas. Kebayang ga sih muter balik mobil di jalan sesempit ini, entah berapa kali maju mundur dikit-dikit. Tapi untungnya mereka berhasil. Kami sempat ngobrol dan ada satu Tante yang menegur kami. “Eh, Mbak jatuh dari motor?” Kami melongo, bingung entah apa maksudnya. Ternyata si tante ngeliat celana sobek-sobek kami dan dikiranya abis jatuh. :)) #akurapopo kok, Tante! Terima kasih buat perhatiannya…

Maria In Action!

Another Landscape Photo

Kami saling bantu gantian ambil foto dan mereka berpamitan untuk berjalan naik. Hati-hati ya Om, Tante. Kalo cape jangan dipaksa! Kamipun mengemasi barang-barang dan bersiap untuk cari tujuan lain. Belum kepikiran kemana, sempat pengen ke Borobudur tapi masih pingin cari pemandangan alam. Sudahlah, dipikir nanti di jalan, siapa tahu melewati tempat indah. Salah satu sisi menarik dari liburan itu tidak harus semuanya terencana dengan baik.

View from Telomoyo

Kalau dari Salatiga tempat ini bisa dijangkau dengan rute Pasar Sapi-Ngawen-Desa Blacir-Desa Pandean-Telomoyo. Bisa disearch di Gugelmep dengan keyword ‘Telomoyo’ atau masukkan koordinat ini -7.405, 110.399. Sedikit saran kalau pengen coba datangi tempat ini:

  1. Dingin, pakai baju yang sesuai. Jaket yang agak tebal, kalau memang pakai jaket tipis harus layering. Pakai beberapa lapis baju, dan lepas setiap lapisannya kalau memang sudah terasa gerah.
  2. Sepatu, jangan sandal.
  3. Motor, sepeda, atau jalan. Atauuu… TRAIL RUN! Kalo memang bawa mobil mending diparkir di bawah.
  4. Bawa termos isi kopi panas atau teh panas sepertinya akan enak banget. Bawa makanan secukupnya buat menikmati tempat ini. Sampah bawa pulang.
  5. Saat terbaik main di alam adalah pagi. Langit cerah dan bersih. Pastinya banyak orang memilih keluar rumah siang atau sore. Jadi kalo pagi lebih sepi dan ambil foto juga lebih enak. Bebas ‘bocor’ dari penampakan orang lain.
  6. Cocok dikunjungi siapa saja. Sendiri, group, couple, keluarga yang bawa anak-anak di atas 10 tahun. Tempat ini akan menyenangkan untuk anak-anak yang sedang belajar mengenal alam.

Perjalanan kali ini: hebat. Dekat, murah, dapet gunung, air terjun, udara bersih. Suatu saat akan kembali lagi untuk melihat pemandangan dari puncak. Ok, baiklah. Siap bonceng lagi.

Pindah tempat lain!

Advertisements

One thought on “Naik-Naik ke Puncak Gunung – Motoran Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s