The Not-So-Haunted-House

Travel

Semarang. Entah berapa ratus kali datang ke kota ini dengan berbagai alasan. Main, kerjaan, nonton, numpang airport, pokoknya cari sesuatu yang ga bisa didapat dari kotaku Salatiga, yang saat ini cukup ditempuh dalam waktu sejam lewat jalan tol baru, Semarang-Bawen.

Sering banget ke Semarang pastinya juga sering lewat Tugu Muda, yang merupakan roundabout atau buletan gede dengan banyak percabangan menuju jalan-jalan lain. Kalau sedang melewati Tugu Muda anehnya mata ini ga pernah lepas dari satu bangunan putih, yang nurutku indah banget dan dikenal sebagai Lawangsewu. Dalam bahasa Jawa Lawangsewu berarti berarti seribu (sewu) pintu (lawang).

Apa sih yang paling terkenal dari bangunan ini? Coba aja nanya ke orang sekitar, pasti selalu ada cerita seremnya. Apalagi disini sempet dipakai untuk tempat shooting reality show lokal yang menayangkan tempat-tempat yang terkenal berhantu. Terus terang, alasan itu juga sempat membuat aku berpikir beberapa kali kalo mesti main kesini. Aku tidak pernah sekalipun jadi penggemar haunted house.

Sampai suatu saat waktu ke Semarang sama Mama (lebih seneng manggil beliaunya Si Mbok), dan beliaunya ngajakin iseng main kesitu. Awalnya gara-gara dapat cerita dari salah satu temannya dari PT Kereta Api Indonesia yang ikut merestorasi tempat ini. Sempat agak mikir juga. Tapi kalau jalan-jalan dan ngeliat hal baru (yang sebenernya lama) kenapa enggak. Setelah Si Mbok kasih tawaran, anehnya mulut ini langsung cepet kasih respon “Iya, Mbok. Yuk kesana, aku juga penasaran.” Walopun setelah jawab langsung mikir keras membayangkan gimana nanti jadinya. ๐Ÿ˜ฅ

Ceritanya kita jalan bertiga sama Pak Sholeh, driver kami yang baik hati. Sayangnya dia cuma turunin kami di depan gerbang Lawangsewu dan ngacir cari parkir. Akhirnya kami berduaan aja, ke loket, bayar 10rebu per orang buat tiket masuk. Di situ kami ditawari mau pake guide apa ga, supaya lebih jelas katanya. Berapa pak? Mulai dari 30rebu (maksud kata ‘mulai’ adalah jangan lupa kasi lebih!). Iyadeh, mau pake guide supaya ngerti ceritanya. Namanya juga tempat bersejarah. Aneh kalo ga ngerti latar belakangnya.

Selesai kenalan dengan Mas Guide berseragam putih dan bertas selempang itu, kami mulai jalan ke halaman tengah. Dia mulai cerita soal tempat ini. Pertama, yang diceritakan adalah jumlah daun pintu yang nurut dia, sekitar 960sekian. Oke, nyaris seribu. Sepertinya yang dihitung ga cuma daun pintu si, jendela juga. Baiklah, apapun usaha Anda untuk menyesuaikan nama dengan kenyataan. Anda nyaris berhasil kok.

Lawang Sewu terdiri dari 3 bangunan. Bangunan A (bangunan utama), B (bangunan tambahan), dan C (ruang pamer). Saat kami datang kesitu pada bulan Juli kemarin, bangunan utama sedang dalam proses renovasi total, sehingga kami hanya bisa masuk ke bangunan B dan C. Mereka juga punya tunnel atau ruang bawah tanah yang katanya super haunted itu, dan (untungnya) sedang direnovasi juga jadi kami ga bisa masuk. Artinya, suatu saat setelah direnovasi aku harus balik lagi kesini untuk masuk kesini. SIANG.

Katanya Mas Guide, tempat ini dulu digunakan sebagai kantor Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij (NIC) yang kurang lebih artinya kantor perkeretaapian milik pemerintah Hindia-Belanda. Bangunan super keren ini dibangun selama 3 tahun saja yaitu pada tahun 1904-1907. Kalo ngeliat langsung detail dan luas bangunan ini (3 lantai plus ruangan bawah tanah) kaget banget kok bisa-bisanya dalam 3 tahun bangunan ini selesai dibangun! Aku agak bingung, mereka itu sebenarnya jenius atau sadis? Ok, you decide.

Sambil ngobrol kami melewati halaman tengah, dan si Mas menawarkan, “Mau ambil foto, Mbak?”. Gila aja, mauk banget lah! Kami berdiri di tempat yang disarankan si Mas dan dia ambil beberapa gambar pake kamera hape. Dia minta kami buat cek apakah fotonya sudah sesuai dengan keinginan apa belum. Setelah ngeliat hasilnya kaget juga. Mas ini pinter banget ambil foto dan hafal banget spot-spot foto disini. Ya ampun Mas, tempat ini ga salah hire kamu! Dia kelihatan sangat menjiwai pekerjaannya. Sopan, pinter cerita, komunikasi bagus dan ga kaku, dan pastinya pinter ambil foto! (sepertinya poin terakhir yang paling penting).

#PiknikSandalJepit bareng Si Mbok!

#PiknikSandalJepit bareng Si Mbok!

Kami diajak masuk ke gedung tambahan (B), disana disambut oleh petugas yang siap menyobek ticket kita. Iya, tiketnya yang tadi jangan dibuang dulu! Kebetulan punyaku ada di dasar tas, dan udah berbentuk bola. Maaf ya, Pak. Abis ga ngerti kalo masi kepake. Memasuki gedung itu kita langsung diajak menaiki tangga dan disambut berderet-deret pintu yang sengaja ga pernah ditutup. Artinya, itu spot foto favorit!

Untuk ambil foto ini harus bersabar nunggu sepi :p

Untuk ambil foto ini harus bersabar nunggu sepi :p

Sambil mengabaikan sudut-sudut yang kurang terurus, kami takjub melihat detail ruangan ini. Semua pintu dari kayu Jati, walaupun sudah banyak yang hilang dicuri. Di balik pintu-pintu ini ada ruangan dengan pintu yang sejajar, menghubungkan satu ruang dengan ruangan lain.

Nasib mata silinder. Sepertinya udah lurus, akhirnya tetep aja miring...

Nasib mata silinder. Sepertinya udah lurus, akhirnya tetep aja miring…

Jajaran pintu di setiap ruangan ini terlihat keren dan, ehm, menampakkan sisi magis Lawangsewu, walaupun selama disini aku ga merasakan atau melihat sesuatu yang aneh. Banyaknya pintu ini bukan tanpa alasan, karena semua ini dibuat untuk menjaga sirkulasi udara di gedung ini baik, dan menjaga ruangan tetap adem. Oiya juga ya, jaman segitu belum ada AC. Baru nyadar. ๐Ÿ˜€

Tour di bangunan ini dilanjutkan ke ruang berikutnya, bekas ruang dansa. Langsung ngebayangin Mbak dan Mas Londo (sebutan orang Jawa kepada Belanda, dari kata Walandaย yang artinya Belanda) dulu pernah saling berpegangan tangan dan berdansa berputar-putar di lantai ini. Berhubung belum direnovasi, daerah ini masih belum rapi dan sepertinya jarang dibersihkan.

Abandoned Dance Floor...

Abandoned Dance Floor…

Di pinggir ruangan ini berjajar jendela-jendela yang cara bukanya terbalik dengan jendela yang sering kita lihat. Jadi bagian yang terbuka di atas, tidak di bawah. Katanya dengan jendela model ini sirkulasi udara juga lebih baik. Mas Guide juga menjelaskan kalau sebagian besar material yang dipakai didatangkan langsung dari Belanda.

Jendela yang kebalik itu...

Jendela yang kebalik itu…

Selesai menyusuri lantai 2 kami naik ke lantai 3. Menurut keterangan Mas Guide, lantai 3 ini berfungsi untuk pendingin ruang yang lain. Entah bagaimana cara kerjanya. Ruangan luas ini tidak digunakan untuk beraktivitas. Tapi setelah melihat ke salah satu sisi, kami menemukan bentuk kotak-kotak berwarna kuning seperti… Lapangan bulu tangkis? Iya, katanya tempat ini sempat dipakai KODAM dan difungsikan untuk olah raga. Aku mulai menyapukan pandangan ke langit-langit dan melihat susunan rangka baja dan kayu, dan tiba-tiba Si Mbok nyeletuk: “kapal kuwalik” (kapal terbalik). Bener juga, setelah dilihat seperti susunan kayu di kapal yang terbalik sehingga membentuk atap. Menarik.

Bentuk atap "Kapal Kuwalik"

Bentuk atap “Kapal Kuwalik”

Keasyikan cerita, Mas Guide ga sadar kalo tato mengintip dari balik lengan baju seragamnya. Kiri-kanan, sampai ke pergelangan tangan. Ternyata, he’s heavily inked! Walaupun begitu dia terlihat sangat terpelajar, antusias, dan mencintai pekerjaannya! Dia sukses membuktikan kalo tato itu tidak identik kriminalitas dan kekerasan, tetapi dengan artย dan passion! #halah

Eniwe, dia membawa kami turun dan pindah ke bangunan C yang saat ini difungsikan sebagai ruang pamer. Ruangan ini sudah selesai direnovasi, dan beneran: bersih dan bagus banget. Disini aku baru ngerti dari Si Mbok kalo ternyata ada salah satu Mbah Buyut Putri (Nenek Buyut) yang suaminya bertugas megang rambu-rambu yang jadi tanda berangkatnya kereta api. Seperti ini nih bentuknya.

 

'Senjata' Si Mbah dulu katanya seperti ini.

‘Senjata’ Si Mbah dulu.

Intinya, tempat ini dulu digunakan sebagai Kantor Pekeretaapian Hindia-Belanda, kemudian pada masa pendudukan Jepang disalahgunakan sebagai tempat penyiksaan dan penjara. Selanjutnya tempat ini digunakan oleh KODAM, dan sampai saat ini dikelola dan direstorasi oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Setiap bangunan ini berpindah tangan, secara otomatis fungsinya juga berubah. Misalnya ruang bawah tanah yang legendaris itu. Pada jaman Jepang ruangan ini digunakan untuk ruang tahanan. Ada penjara jongkok dan penjara berdiri, dimana tahanan cuma bisa bertahan di posisi itu aja. Padahal pada saat dibangunnya tempat ini, ruangan bawah tanah digunakan untuk mendinginkan bangunan. Terlihat disini terdapat genangan air setinggi betis. Memang, di tempat ini diklaim paling angker disini berkat jasa salah satu reality show yang sukses menayangkan penampakan. Anehnya cerita horror bagi sebagian orang malah membuat tempat ini semakin menarik, tapi tetep aja sebagian orang malah ketakutan dan antipati.

Kalau ingin mengunjungi tempat ini gampang kok, tinggal masuk ke kota Semarang-Simpang Lima-Pandanaran-Tugu Muda-Lawang Sewu. Search di gugelmep dengan nama Lawang Sewu ada juga. Kalo udah sampai situ sebaiknya:

  1. Yang pertama dan utama, jangan jahil, iseng, atau ga sopan. Ikuti instruksi dan peringatan dari guide baik-baik.
  2. Kalo emang pemberani boleh dicoba kesini malem. Tapi coba liat situasinya siang dulu. Kalo emang berani, coba deh malem. Sensasinya pasti beda. Aku? Bagiku siang aja udah indah kok, sayang kalo malam ga keliatan cantiknya. ๐Ÿ˜€
  3. Cocok buat wisata keluarga, idividual, atau group. Ada juga guide yang bisa bahasa Inggris.
  4. Pake guide aja. Dapet penjelasan sejelas-jelasnya trus difotoin pula. Tapi jangan lupa ngetip.

Banyak tempat bagus buat jalan-jalan di Jawa, dan memang sebagian besar tempat wisata disini mesti punya cerita yang pastinya malah membuat lebih menarik. Seperti pantai Selatan yang punya cerita Nyai Roro Kidul, Gunung Merapi punya Mbah Maridjan, dan Lawangsewu punya cerita horrornya. Sebagian besar memang berbau mistik, karena itu juga ga jauh dari budaya Jawa yang memang sedikit banyak mempercayai hal seperti itu.

Ini nih yang sering dipake buat foto Prewed! Aku prewed sendiri aja, soalnya prewed couple udah mainstream banget.

Ini nih yang sering dipake buat foto Prewed! Aku prewed sendiri aja, soalnya prewed couple udah mainstream banget.

Di akhir tour kami ambil beberapa foto di lokomotif kuno di taman dan beberapa sudut Lawang Sewu dari luar. Setelahnya kami berpamitan pada Mas Guide dan berjalan ke area parkir. Kami tadi sama sekali ga merasa ketakutan atau semacamnya. Tempat ini ga seserem yang dibilang orang kok!

Beneran!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s