Queen’s Bathwater (Gunung Kidul II: Part 3, End)

Travel

Hari sudah semakin sore ketika aku dan Maria (@marianiena) memutuskan untuk kembali ke pantai Wediombo. Walaupun sudah menempuh berjam-jam perjalanan trus main-main di Luweng Sampang dan pantai Jogan, badan tidak terlalu lelah. Soalnya di jalan aku ga berhenti ngemil, minum air putih dan menikmati kopi yang dibawa dari rumah. Kalau melewati perjalanan panjang biasanya kami selalu memastikan urusan logistik tidak kurang. Air putih, susu, cemilan, dan roti ga pernah ketinggalan. Urusan makan apalagi, jangan sampai telat supaya ga nambah urusan di jalan. Untungnya kami punya prinsip yang selalu dipegang saat mbolang cantik. Yang penting makan dan kenyang, rasa nomer ke sekian.

Eniwe, setelah puter balik dan keluar dari kawasan Pantai Siung, kami mengikuti greenboard ke pantai Wediombo. Sampai di parkiran agak kaget juga ternyata tangga baru direnovasi. Jadi kami harus jalan memutar lewat jalan setapak. Tujuan kami adalah kolam alami yang sebelumnya pernah kami kunjungi juga. Perjalanan kesana lumayan seru, melewati rumah penduduk, kandang ternak, dan terdapat beberapa fasilitas umum seperti toilet dan kamar mandi. Biasanya di daerah tangga yang sedang direnovasi banyak penjual yang menjajakan makanan, minuman, gorengan, dan popmie. Tetapi kali ini kami sama sekali tidak melihat mereka.

Perjalanan ke kolam alami ditempuh sekitar 15 menit jalan kaki. Memang lebih enak kesini pakai sepatu dan bawa sandal di backpack. Apesnya running shoes kesayangan ditinggal di mobil dan ga kepikiran bakal pake lagi. Oiya, buat cewe-cewe cantik, lupakan ballerina shoes imut-imut atau sandal lucu-lucu yang biasa dipakai buat ngemall. Kecuali emang berencana pengen kepleset, nyemplung di ladang, dan semacemnya. :p

Kami sampai di Wediombo!

Kami sampai di Wediombo!

Kalo papasan dengan penduduk sekitar jangan lupa selalu bersikap ramah dan menyapa ya! Soalnya mereka adalah orang terdekat yang akan menolong apabila kita membutuhkan bantuan. Hati-hati juga saat melewati ladang yang ditanami penduduk sekitar, jangan sampai terinjak tanamannya (emang aku bawel, biarin!). Ada beberapa jalan menurun juga yang harus dilewati dengan hati-hati. Setelah sampai di pantai, kami disambut dengan pemandangan indah perbukitan dan hamparan batu-batu besar di sekitar pantai.

Mungkin ini yang membuat pantai ini diberi nama Wediombo. Wedi (debu) Ombo (lebar)

Mungkin batu-batu besar ini yang membuat pantai ini diberi nama Wediombo. Wedi (debu) Ombo (lebar)

Kami berjalan lagi melewati batu-batu besar ini dan melewati ‘lantai’ karang yang sama sekali tidak licin. Sempat kepikiran, buat yang seneng trail running sepertinya tempat ini lumayan cocok walaupun jaraknya pendek. Bisa dimulai dari jalan setapak dari area parkir sampai disini. Misal kurang jauh bisa perpanjang rute sampai ke Pantai Jungwok, pastinya sepanjang jalan pemandangannya keren banget! Ntar deh, di post berikutnya aku cerita soal Jungwok juga.

Berjalan di atas karang, ga licin sama sekali. Kalo sore area ini enak banget buat nongkrong.

Berjalan di atas karang, ga licin sama sekali. Kalo sore area ini enak banget buat nongkrong.

Jalan di cuaca panas cukup buat berkeringat dan ngos-ngosan. Kami nyampe di tumpukan karang tinggi di dekat natural pool, disini tempat favorit buat meletakkan semua barang dan mengeluarkan semua bekal. Soalnya tinggi dan sejauh ini ombak ga nyampe sini. Kami duduk-duduk sebentar dan ambil foto sambil mengeringkan keringat yang bercucuran sambil menikmati ademnya angin laut disini.

Believe me, take A Selfie doesn't hurt!

Believe me, take A Selfie doesn’t hurt!

Yeaahhh! Aku kembali lagi!

Yeaahhh! Aku kembali lagi!

Sambil nungguin keringat kering, aku mulai ngelamun dan mengamati detail di sekitar kolam natural ini. Kolam ini terbentuk dari karang-karang yang membentuk cekungan, sehingga air laut tergenang di tengahnya. Kalau ombak besar datang, biasanya akan menabrak dinding karang dan airnya akan mengalir di antara karang. Keren banget!

Biasalah ya kalo orang duduk ga ngapa-ngapain itu ujung-ujungnya ngelamun. Di tengah lamunanku tiba-tiba ingat pada Her Majesty yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai penguasa laut selatan. Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng berarti Yang Mulia, Kidul berarti Selatan. Sering disamakan dengan Nyai Rara Kidul yang merupakan panglima perangnya. Iya emang, wanita yang berkuasa disini. Wohohohoohooo… Warna airnya kehijauan, seperti tercelup selendang Kanjeng Ratu yang sedang berendam disitu, soalnya konon Kanjeng Ratu menyukai warna hijau. Jadi menurut kepercayaan orang Jawa, kalau ke laut selatan jangan sekali-sekali pakai warna hijau, soalnya bisa ketarik ke laut dan dijadikan budak atau prajurit wanita-wanita dari laut selatan ini. Ga tau bener apa ga, tapi sebaiknya jangan dicoba. 😀

Gatel pengen cepet nyebur!

Gatel pengen cepet nyebur!

Ngerasa suhu tubuh udah mulai turun, kami ngumpet-ngumpet ganti baju (disitu banyak bapak-bapak mancing), dan langsung nyebur! Airnya dingiiinnn… Beda seperti dulu pernah kesini pas siang bolong, anget! Eh, baru sebentar menikmati air, salah satu bapak yang mancing kasih tahu kalau kami harus segera keluar dari kolam. Soalnya sebentar lagi air mulai naik dan ombak mulai besar. Agak gimana juga si, sebenernya belum puas renang.

Akhirnya kita nongkrong di atas karang yang tinggi sambil keringin badan. Bener aja, ga lama setelah itu ombak mulai besar. Jadi kalau dikasih tahu penduduk setempat mendingan nurut aja. Soalnya mereka lebih ngerti gejala alam daripada kita. Ga jadi nyesel! Yaudah, ga bisa berenang lama gapapa. Kami bisa kok menikmati tempat itu sambil duduk-duduk, buat video-video bodoh, foto-foto, dan nyemil. Namanya alam memang ga bisa ditebak, jadi nikmati aja pake cara lain. Yang penting liburan tetap asyik!

Abis berenang, sunbathing sambil keringin badan di atas tumpukan karang.

Abis berenang, sunbathing sambil keringin badan di atas tumpukan karang.

Begini ini kalo ombak besar nabrak karang. Keren banget diliat dari jauh. Tapi ga keren kalo kita pas di bawahnya...

Begini ini kalo ombak besar nabrak karang. Keren banget diliat dari jauh. Tapi ga keren kalo kita pas di bawahnya…

Matahari mulai turun dan kami memutuskan untuk berkemas. Semua sampah juga kami kumpulkan, ikat rapat dan masukkan ke ransel. Sambil berkemas sedikit diskusi gara-gara agak galau pengen kembali ke Pantai Jogan buat lihat sunset, tapi males kebut-kebutan dan takut nyampe sana mataharinya udah keburu ilang. Akhirnya kami cari spot di atas batu buat duduk-duduk dan menikmati senja. Dan. Ternyata. Keren. Banget.

Memang disini ga bisa lihat sunset karena tertutup bukit. Tapi ini sudah lebih dari cukup!

Memang disini ga bisa lihat sunset karena tertutup bukit. Tapi ini sudah lebih dari cukup!

Disini perasaan campur aduk antara seneng sama cape. Yang jelas mensyukuri perjalanan seharian tadi. Kami sepakat, setelah matahari menyentuh bukit, trip kami di Gunung Kidul resmi berakhir, dan kami harus mulai jalan. Dengan bantuan cahaya matahari yang mulai meredup, kamipun menuju tempat parkir.

Di jalan setapak itu kami bahas beberapa hal yang membuat kita lebih nyaman disini:

  1. Pakai alas kaki yang benar dan pastinya nyaman. Perjalanan ke kolam natural agak jauh dan beberapa kali harus lompat atau menuruni ladang. Jadi lebih baik pakai sepatu nyaman seperti running shoes atau sepatu trekking, atau minimal sepatu sandal. Sandal jepit disimpan di backpack saja buat jaga-jaga.
  2. Kalo bawa keluarga memang paling enak di pantai utama yang terbuka, soalnya banyak pengunjung lain dan warga sekitar yang bisa ikut mengawasi. Ga cape juga jalannya. Di area pantai juga ada yang berjualan minuman dan mie instan. Walopun ga disarankan juga makan mie instan. Tapi masih lebih baik daripada ga makan.
  3. Bawa bekal minuman,  cemilan atau nasi bungkus. Disini cuma ada ibu-ibu jualan mie seduh instan, gorengan, dan beberapa jenis minuman. Itupun cuma di pantai utama. Bawa kain pantai. Bisa dipake buat alas duduk dan buat piknik di karang yang rata. Bawa juga plastik kosong untuk tempat sampah. Bawa sampah keluar dari pantai dan buang setelah ketemu tempat sampah.
  4. Dengarkan dan perhatikan instruksi dari penduduk sekitar. Kalau mereka menyuruh keluar dari air atau menjauhi suatu area turuti saja. Mereka lebih ngerti.
  5. Kalau seneng mancing, sepertinya ini tempat yang cocok. Karena banyak bapak-bapak mancing di karang-karang.
  6. Dua kali kesini. Siang bolong dan sore. Milih siang bolongnya. Panas emang, tapi air dan udaranya anget.
  7. SUNBLOCK! Matahari pantai kejam minta ampun. Apalagi kalo masuk air. Ky dikasi kaca pembesar aja. Trus jangan lupa abis kena air pake lagi sunblocknya. Cari SPF yang tinggi. Aku udah pernah sunburn rata di muka dan di pundak. Ga perlu diceritain rasanya gimana. Untung yg di muka ngelupas rata, yang di pundak ngelupas sebagian. Dan akhirnya jadi kaya panuan!
Sunset. Pertanda kalau mbolang cantik hari ini sudah selesai :'(

Sunset. Pertanda kalau mbolang cantik hari ini sudah selesai 😥

Untuk mencapai tempat ini dari Prambanan dapat menggunakan rute: Prambanan-Piyungan-Patuk-Arah Pantai-Arah Pantai Drini atau Indrayanti-Arah Pantai Siung-Pantai Wediombo. Jalannya naik turun, tetapi aspalnya lumayan halus. Tepatnya pantai ini bisa ditemukan di koordinat ini -8.193, 110.709

Baiklah, jadi total seluruh perjalanan ini 16 jam dengan 3 tujuan. Dengan perjalanan dari Salatiga ke daerah pantai ini sekitar 5 jam, jadi 10 jam bolak balik dan 6 jamnya muter-muter di Gunung Kidul. Keseluruhan biaya 410ribu buat 2 orang, dengan rincian 200ribu bensin, selebihnya buat 3 kali makan kenyang banget, nyemil sampe enek, parkir, dan tiket masuk ke semua objek. Per orang cuma 205ribu, dengan pengalaman yang tidak tergantikan. ASELI GA NYESEL!

Di perjalanan pulang kami berhenti di Wonosari untuk mampir makan. Sambil menikmati nasi goreng Magelangan (campur mie) kami ngoceh ngomongin tujuan berikutnya. Pastinya kembali lagi ke Gunung Kidul! Aku ga mau berhenti mengelilingi Indonesia, eh terlalu muluk, pengen muterin Jawa Tengah dan DIY dulu di awal. Eniwe, kemanapun jalannya tetep ya… Don’t leave anything but footprints!

Advertisements

8 thoughts on “Queen’s Bathwater (Gunung Kidul II: Part 3, End)

  1. kereeen…
    ditunggu lg tulisan2 berikutnya.. 🙂
    emg kl ngomongin gunung kidul ga ada abisnya,apalagi soal pantai..banyak banget pantai yg blum sempat aku samperin,salah satunya ini,kayaknya sih menarik..jadi pngen ksana..hehe

    1. Terima kasih banyak mas! Kapan2 kalo ke gunung kidul harus kesini, bisa jalan terus sampai ke pantai Njungwok. Nanti aku tulis juga soal pantai Njungwok. Banyak banget yang mesti ditulis jadi bingung. Hahahahahaa…

  2. oke deh..nanti kpan2 pasti nyampe jg kesana.. 🙂
    pantai njungwok??wah..mlah bru denger aku
    ditunggu review nya..hehehe
    kebanyakan traveling,jd bingung mau nulis yg mana dulu ya..? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s