The Wedding Veil (Gunung Kidul II: Part 2)

Travel

Masih dalam trip Gunung Kidul yang kedua dan masih juga bersama Maria (@marianiena), aku kembali memulai perjalanan menuju tujuan berikutnya. Sambil diam-diam berangan-angan suatu saat akan foto prewedding di Luweng Sampang (#eh), kami mulai berdiskusi tentang tujuan berikutnya. Seharusnya tujuan berikutnya ke air terjun Sri Gethuk, tetapi karena masih musim kering dan takut kecewa gara-gara airnya sedikit, jadi kami memutuskan untuk loncat ke tujuan ketiga: Pantai Jogan.

Seperti biasa, dengan berbekal petunjuk arah dari beberapa travel blog, kami mulai Menuju ke Wonosari. Sesampainya disana, kami langsung menuju arah pantai Ndrini atau Indrayanti (jangan ke arah Kukup, Krakal, dan Baron). Merasa tidak yakin, kami mulai mengaktifkan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar). :)) Langsung deh dapat informasi akurat dari penduduk dan mengikuti petunjuk menuju pantai Siung. Green boardnya jelas banget dan mudah diikuti. Aku langsung puter setir masuk kawasan pantai Siung, bayar tiket di loket, kalo ga salah sekitar marebu aja. Lanjut aja terus menuju pantai Siung, tetapi jangan kenceng-kenceng. Jalan aja sambil celingukan, karena akan ada percabangan sebelum pantai Siung dengan petunjuk ke arah Pantai Jogan!

Horeee... Ketemu! Itu pantai Jogan dan... tambal ban.

Horeee… Ketemu! Itu pantai Jogan dan… tambal ban.

Di papan petunjuk itu ada tulisan kecil “sunset spot”. Sempat kepikiran agak-agak nyesel, kenapa ga dijadikan tujuan terakhir aja biar bisa lihat sunset yang konon sulit ditemui di pantai-pantai Gunung Kidul. Tapi begitulah seninya mbolang cantik, kalo ga coba yaa ga bakalan ngerti. Kan bisa dilakukan di trip berikutnya juga. 😉

Masuk di area ini jalannya cuma dari dari beton di kiri kanan buat lewat ban mobil, dan cukup buat semobil aja. Ga bisa papasan. Jalan ga terlalu rata tapi ga ekstrim juga, soalnya ada toyotainopa bisa masuk juga tanpa hambatan. Tapi jangan juga kesini pake sedan.

Catatan penting: tinggalkan sedan ceper bin alaymu di rumah kalo ga mau nyangkut!

Catatan penting: tinggalkan sedan cepermu yang ala-ala fast and furious itu di rumah kalo ga mau nyangkut!

Di akhir jalan ini ketemu turunan tajam menuju ke parkiran. Sekilas terlihat beberapa fasilitas seperti toilet, kamar mandi, dan warung. Tapi belum lihat juga bagaimana kondisinya soalnya belum laper dan kebelet pipis juga. :p

Dari situ kami turun menuju ke pantai. Ngeliat pemandangannya langsung nahan nafas. Ngeliat air saking beningnya sampai karangnya keliatan, pengen lari langsung nyebur ke bawah.

Menahan hasrat-pingin-nyebur. Harus foto dulu!

Menahan hasrat-pingin-nyebur. Harus foto dulu!

Wait, LARI? Setelah melihat akses ke pantai, jangan harap bisa lari. Jalan turun menuju ke pantai cuma dari karang-karang yang tingginya tidak beraturan dan pegangan seadanya dari bambu. Awas, karangnya setajam perkataan mertua! Cari pegangan yang aman buat menjaga keseimbangan. Jangan senderan atau membebani pegangan dari bambu juga walaupun kelihatannya ditanam kuat di karang. Dari sini bisa langsung terlihat air terjun, yang disebut sebagai Grojogan Manten (Air Terjun Pengantin), iya emang kaya judul film horor tahun 90an.

Grojogan Manten yang bagiku terlihat seperti The Bride yang feminin dan cantik!

Grojogan Manten yang bagiku terlihat seperti The Bride, feminin dan cantik!

Bagiku pertemuan Pantai Jogan dan Grojogan Manten ini sangat serasi, Grojogan manten disini terlihat feminin dan cantik dibandingkan dengan Pantai Jogan yang powerful dan maskulin. Jadi mereka terlihat seperti The Bride and The Groom yang serasi, dan disinilah tempat mereka bersatu. #ceile Coba kesini waktu musim hujan, Pasti Grojogan Manten akan terlihat seperti gaun dan renda penutup kepala pengantin wanita. Mulai membahas topik sensitif nih… :’D

Pantai Jogan, The Groom yang maskulin, cakep, dan powerful!

Pantai Jogan, The Groom yang maskulin, cakep, dan powerful!

Belum juga sampai bawah air terjun, Maria hilang keseimbangannya dan jatuh di antara karang-karang tajam! Lututnya berdarah dan lecet-lecet. Ditambah lagi ombak yang tadinya jauh mulai mendekat dan lumayan besar juga. Cukup besar juga buat menyeret kami berdua, seperti dua butir pasir yang diguyur air seember. Pokoknya jangan menyepelekan alam dan kekuatannya. Dan lagi, kami tidak didampingi oleh orang-orang profesional yang sering berurusan dengan alam juga. Tapi jangan khawatir, yang penting berhati-hati dan selalu melihat gejala alam. Semuanya akan baik-baik saja kok.

Setelah sedikit menunggu kami mulai turun menuju ke bawah Grojogan. Disini sudah tidak ada karang tajam. Ganti jadi karang-karang tumpul dan licin banget! Kali ini gantian aku yang setor pantat disini. Lumayan sakit. 😥 Tanpa buang-buang waktu, kami langsung ambil beberapa foto disini.

Dari bawah Grojogan Manten yang tidak terlalu deras

Dari bawah Grojogan Manten yang tidak terlalu deras

Absen pake pantat dulu disini. Ouch!

Absen pake pantat dulu disini. Ouch!

Sayang, berhubung ombak besar kami jadi mengurungkan niat untuk berenang disini. Sekali lagi, bersenang-senang tetap harus waspada dan berhati-hati. Setelah memutuskan untuk kembali, kami jalan ke pinggiran sesegera mungkin. Mengencangkan pegangan dan cari pijakan yang aman kalau ombak datang. Sambil tetap tidak melepaskan pandangan ke ombak, kami kembali naik ke atas.

Berdiri dari puncak Grojogan Manten. Airnya bersih!

Berdiri dari puncak Grojogan Manten. Airnya bersih!

Pantai ini merupakan salah satu pantai yang wajib dikunjungi, bagaimana tidak. Langka banget sepertinya ada air terjun dan pantai yang jadi satu. Pantainya tidak terlalu luas dan sepi, dan yang paling menyenangkan, aku ga melihat adanya sampah berceceran disini. Kalau pingin bersantai disini bisa buat piknik dan duduk-duduk di atas air terjun atau di samping sungai.

Beberapa saranku buat kalian yang pengen mengunjungi tempat ini:

  1. Jangan bawa anak-anak atau orang tua dan jangan traveling sendiri. Tempat ini jarang dikunjungi dan tidak ada pengawasnya.
  2. Lihat gejala alam. Kalau ombak mulai besar, segera hindari area pantai dan naik ke tempat yang tinggi.
  3. Selalu bawa P3K untuk berjaga-jaga kalau ada luka.
  4. Datang di musim yang tepat. Kalau musim hujan terlalu gloomy, mungkin yang terbaik adalah peralihan antara hujan dan kemarau. Supaya bisa lihat penampilan terbaik si Grojogan Manten.
  5. Pakai outfit yang nyaman. Alas kaki sepatu sandal atau sandal jepit cukup, karena tidak perlu jalan jauh.

Kalau dari Prambanan rute yang bisa dilewati adalah seperti ini: Prambanan-Piyungan-Patuk- Wonosari-Arah ke Pantai-Arah Pantai Siung-Pantai Jogan. Untuk koordinat di gugelmep -8.18, 110.676

Mirror selfie udah biasa! Shadow selfie dulu di sungai Grojogan Manten...

Mirror selfie udah biasa! Shadow selfie dulu di sungai Grojogan Manten…

Ok! Puas banget dengan prestasi hari ini! Udah dapat 2 tempat baru. Berikutnya lanjut kembali ke natural pool kesayangan di Pantai Wediombo!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s